Penjelasan opname dan retensi pada administrasi proyek

Penjelasan opname dan retensi pada administrasi proyekPada kesempatan ini saya akan berbagi sedikit pengetahuan tentang administrasi proyek khususnya sistem opname dan retensi pada proyek. Pada artikel ini mungkin tidak sepanjang seperti artikel-artikel sebelumnya yang mengupas tuntas fenomena di lapangan. Opname dan retensi merupakan istilah-istilah di proyek yang tidak pernah anda temukan di kuliah. Mungkin hal ini terlihat sepele bagi para engineers. Namun bagi para calon engineers mungkin saja masih bingung dengan sistem opname dan sistem retensi pada proyek. 

Beberapa istilah memang kerap sekali berbeda dengan yang ada ditempat kuliah.Jika di kampus anda terdapat mata kuliah kerja praktek, manfaatkan waktu sebaik mungkin untuk belajar istilah-istilah asing. Tujuan artikel Penjelasan opname dan retensi pada administrasi proyek adalah untuk memberikan wawasan dan pengetahuan kepada calon engineers agar kelak terjun di dunia proyek sudah ada gambaran terlebih dahulu. Administrasi proyek sangat penting dipelajari mengingat segala kegiatan apa pun harus tertuang dalam pembukuan administrasi. Pengetahuan administrasi yang akan kita pelajari adalah opname dan retensi. 
Proyek
Opname adalah pengajuan pembayaran oleh mandor atau subkon ke main kontraktor yang kemudian akan dibayarkan ke mandor atau subkon jika sudah memenuhi syarat tertentu. Nilai pembayaran tersebut sesuai dengan volume yang sudah dikerjakan. Sebagai contoh untuk pekerjaan beton, harga satuan di SPK mandor adalah 150 ribu / m3. Mandor sudah mengerjakan pekerjaan beton sebanyak 100 m3. Mandor mengajukan opname sebesar 100 m3 x 150 ribu = 15.000.000,-. Maka kewajiban anda sebagai seorang engineer adalah memastikan apakah benar yang sudah dikerjakan 100 m3. Jika sudah sesuai, maka berkas opname bisa diproses lebih lanjut. Di proyek gedung sendiri biasanya opname dilakukan tiap 2 minggu sekali. 

Proses opname dilakukan oleh subkon atau mandor setelah 14 hari. Sistem pengajuan opaname disesuaikan dengan volume yang sudah dikerjakan di lapangan. Opname tersebut harus di tanda tangani atau dicek oleh pelaksana apakah volume pekerjaan sudah sesuai antara opname dengan real di lapangan. Setelah dicek oleh pelaksana, opname disamapaikan ke cost control engineer untuk dicek apakah harga-harga di dalam opname sesuai dengan kontrak atau tidak. 
Proyek
Pada contoh perhitungan di atas belum dikurangi retensi. Retensi adalah potongan biaya opname dalam jumlah tertentu sebagai jaminan hasil pekerjaan. Biasanya dalam proyek gedung khusus swakelola, besarnya retensi adalah 5% dari opname. Retensi tersebut akan terkumpul sampai dengan akhir proyek. Retensi bisa diambil ketika hasil pekerjaan sudah memenuhi syarat. Syarat pengambilan retensi adalah
  1. Hasil pekerjaan oleh mandor atau subkon tidak mengalami masalah selama masa pemeliharaan. Jika mengalami masalah selama masa pemeliharaan maka masih menjadi tanggung jawab mandor atau subkon.
  2. Masa pemeliharaan sesuai kontrak sudah selesai.
Setelah opname dipotong retensi selanjutnya disposisi ke Site Manajer dan Project Manajer. Itulah Penjelasan opname dan retensi pada administrasi proyek. Mungkin saja di tiap proyek akan berbeda-beda namun pada intinya sama. Semakin besar proyek, proses administrasi juga akan semakin kompleks. Artikel ini berdasarkan pengalaman di proyek dengan sistem swakelola. Penjelasan tentang perbedaan sistem kontraktor dan swakelola akan segera hadir.

Demikian artikel tentangPenjelasan opname dan retensi pada administrasi proyek semoga bermanfaat.

Pencarian terkait:
Sumber:
http://www.jasasipil.com/
Load disqus comments

0 komentar